Chimul Chimol

follow us

Friday, 13 February 2015

Naruto The Last Movie Part IX - Text

Sai kemudian mengajak Naruto dan Hinata menuju ke suatu reruntuhan, semacam reruntuhan kuil dengan patung-patung mirip patung Budha yang sudah rusak, serta prasasti-prasasti degan tulisan kuno. Di sana, Sakura dan Shikamaru sudah menunggu.

"Apa maksudnya?" tanya Naruto.

"Tulisan kuno, semacam sumpah dari masa lalu yang berhubungan dengan umat manusia." ucap Sai.


Mereka lalu masuk ke dalam, tempat gelap dengan prasasti yang bertuliskan, "Kepalan tangan mata Tensei, Bulan yang terlahir kembali akan menghancurkan manusia."

"Apa maksudnya?"

"Mungkin mata Tensei yang membuat Bulan bergerak." ucap Shikamaru.

"Jadi, Kakashi benar kalau penculikan Hanabi dan Bulan yang makin mendekat memiliki hubungan.." ucap Sakura.

"Yah, firasatnya memang selalu tepat." ucap Shikamaru.


Sementara itu Hinata hanya terdiam memandangi patung itu. Sampai kemudian, sebuah suara misterius tiba-tiba saja memanggilnya. "Putri Byakugan.."

"Eh!?" Naruto dan yang lainnya kaget. "Suara apa itu!?"

Kemudian sebuah jalan rahasia terbuka. Merekapun masuk ke sana. "Apa ini.. ruang pemakaman?" Shikamaru melihat-lihat dan kemudian..

"Ada orang!" ucap Hinata.

Shikamaru membalikan badan dan sesosok lelaki tua menyeramkan tampak sudah berdiri di depannya.


Shikamaru muncur perlahan, sementara lelaki tua berambut panjang itu melangkah pelan sambil berkata, "Byakugan.. aku merasakan Byakugan.."

"Tidak salah lagi.." ucap orang itu sambil terus mendekat, sementara Naruto dan yang lainnya memasang kuda-kuda bersiap.

"Tidak salah lagi.. oh putri Byakugan.."

Laki-laki itu mendekati Hinata..

"Menjauhlah dari Hinata!!" Naruto menghalanginya.

Lelaki yang sejak tadi berjalan menunduk itu kemudian mengangkat wajahnya, membuka kedua matanya dan kosong. Ya, tampak matanya gelap tanpa ada bola mata di sana. Ia kemudian terduduk, lalu membuka mulut. Dari mulutnya itu, semacam bola cahaya muncul..

Bola cahaya itu makin besar, keluar pelan dari mulut bapak-bapak yang kini sudah tak sadarkan diri itu dan melayang perlahan dan kemudian memancarkan cahaya violet yang sangat terang.


Sinar itu menyambar ke arah Hinata, masuk ke bola matanya, membuat Hinata mampu melihat suatu gambaran yang mengerikan. Sebuah kota, ledakan, perang..

Hinata kemudian pingsan.

"Hinata!!" Naruto menahan tubuh Hinata sebelum ia terjatuh ke lantai.

"Apa yang kau lakukan pada Hinata!?" tanya Naruto pada lelaki yang sudah mulai bangun lagi itu.

"Tenseigan telah bangkit.. harus dihentikan.. Otsusuki" ucap lelaki itu. Hanya itu, setelahnya bola itu kembali masuk ke tubuhnya dan iapun hancur menjadi debu.


Mereka kemudian keluar dari reruntuhan itu. "Hinata, apa kau baik-baik saja?"

"Uh-huh.." Hinata mengangguk.

"Kalau tak salah tadi orang itu menyebut Otsutsuki.. itu nama belakang Rikudo Sennin kan.." ucap Shikamaru. "Hagoromo Otsutsuki, itulah nama asli Rikudo Sennin sebelum menjadi petapa.."

Malam itu mereka berkemah di kota mati itu.

"Juga, ia memanggil Hinata dengan sebutan putri Byakugan.. kelihatannya penculikan Hanabi yang dilakukan Toneri ada hubungannya dengan ini.." ucap Shikamaru, kemudian meminum secangkir minuman hangat.


Malam berlanjut, tampak Hinata masih sibuk menyendiri menyelesaikan rajutan syalnya. Naruto memperhatikannya tak jauh dari situ. "Merajut.. apa dia mau merajut terus selamanya? Hah, sepertinya merajut itu memang butuh waktu yang lama.." pikir Naruto.

Naruto kemudian mendekati Hinata, "Hinata, ngomong-ngomong apa yang ingin kau bicarakan tadi?"

Hinata diam saja..

"Kau bilang ini ada hubungannya dengan yang dikatakan oleh boneka Toneri kan?"

"Itu.. bukan apa-apa." ucap Hinata.
"Heh? Bukan apa-apa?"

"Maaf, saat ini aku ingin sendiri.." ucap Hinata sambil terus merajut.


"Begitu ya.." Naruto tak punya pilihan lain selain pergi meninggalkannya. Meski sebenarnya ia khawatir dengan keadaan Hinata. Yah, sejak tadi Hinata tampak aneh, dari wajahnya seperti ia menyembunyikan sesuatu. Bahkan sampai keesokan harinya ketika misi mereka lanjutkan, tatapan Hinata tetap seperti itu..

"Ayo periksa desa yang ada di sana!" ucap Shikamaru sambil menunggangi burung Sai. Kelompoknya pun bergegas menuju sana.


Di desa berikutnya, yang keadaannya tak jauh beda dengan desa sebelumnya, Hinata dan Naruto sama-sama diam. Mereka bahkan berjalan berjauhan, tak seperti biasanya.

Senja, Naruto dan Hinata berada di atas sebuah bangunan sambil melihat ke arah kejahan. Di sana juga mereka tak banyak bicara. Naruto hanya bilang, "Kelihatannya Hanabi juga tak ada di sini.."

Hinata diam saja.
Melihat wajah Hinata yang diam itu, Naruto..



Naruto terdiam dan menunduk. Lalu bangun dan berjalan kembali, "Sebaiknya kita kembali ke yang lain.." ucapnya.

Hinata masih terdiam.

Malam harinya, Hinata kembali duduk sendiri, merajut syal itu di atas sebuah batu di sebelah sungai. Suasana yang gelap menjadi terang karena kunang-kunang beterbangan di tempat itu.


Naruto diam di balik pepohonan. Memperhatikan gadis itu dari kejauhan.

"Hinata.." Naruto akhirnya berani mendekati Hinata. Namun sebelum sempat berkata apa-apa, Hinata berkata..

"Adikku sedang dalam bahaya, tapi aku malah di sini.. merajut.."

"Aku ini kakak yang payah, ya?"

"Tentu saja tidak!" ucap Naruto. "Kau jauh-jauh datang ke sini cuma untuk menyelamatkan adikmu."

"Tapi kalau saja waktu itu aku di rumah.."
"Jangan khawatir kita pasti akan menyelamatkan Hanabi!!" ucap Naruto.

"Terimakasih.." Hinata tersenyum kecil.
"Kau benar-benar baik, Naruto-kun.."



"Ah.. tapi aku baik bukannya karena aku menyukaimu atau semacamnya lho.." ucap Naruto malu-malu sambil menggaruki kepalanya.

"Eh?"

"Aku.. aku hanya mengkhawatirkan Hanabi.." ucap Naruto.

Hinata berdiri, "Naruto-kun, tadi kamu bilang apa?"

Meski tak mau mengakuinya Hinata tahu isi hati Naruto. Naruto pun pada akhirnya tak bisa mengelak lagi.

"Hinata.. aku menyukaimu.." ucapnya.

Mata Hinata terbuka lebar..


Selama beberapa detik, situasi canggung mereka rasakan. Hinata dan Naruto sama-sama terdiam. Saling menatap satu sama lain.

"Hinata.."

Kegelapan kemudian menyapu bayangan cahaya yang dipantulkan oleh permukaan air. Dari atas sana, Tonari muncul menghampiri mereka..

"Toneri!! Apa kau boneka seperti sebelumnya!?" teriak Naruto. "Dimana Hanabi!?"

"Diam, aku datang untuk mendengar jawaban Hinata." ucap Toneri, sambil memperlihatkan mata barunya.

"Jawaban? Tak ada yang perlu Hinata katakan padamu!" ucap Naruto. "Jadi cepat katakan dimana Hanabi!!"

Selanjutnya terjadi sesuatu yang benar-benar tak diduga oleh Naruto. Hinata menghampirinya, lalu tanpa mengatakan apa-apa langsung menyerahkan syal yang telah selesai dirajutnya pada Naruto.

"Hinata.."

Selanjutnya Hinata pergi, pergi ke sisi Toneri.

"Hei.." Naruto masih tak mengerti. Tepat setelah ia mengucapkan perasaannya, gadis itu malah pergi. "Ada apa sebenarnya, Hinata?"

Hinata berdiri di sebelah Toneri dan berkata pada Naruto, "Selamat tinggal, Naruto-kun.."


Hinata terdiam di balik pelukan Toneri, meninggalkan Naruto yang masih menatap hampa dengan penuh tanda tanya. Menyisakan perasaan campur aduk.. ketika orang yang baru ia sadari ia butuhkan tiba-tiba pergi dari hidupnya.

***
Naruto The Last Movie Part X - Text

Blog ini dibuat oleh Yandi Mulyadi.

Use parse tool to easy get the text style on disqus comments:

Show Parser Hide Parser

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.