Chimul Chimol

follow us

Friday, 26 June 2015

Naruto The Last Movie Part XX - Text (End)

Sudah habis, waktu yang Raikage berikan sudah tak bisa ditolerir lagi. Namun, meski ia telah memberi perintah, shinobi yang bertugas untuk menembakan senjata penghancur itu tak kunjung melakukan tugasnya. Killer Bee diam saja saat disuruh kakaknya untuk menembakan senjata itu.

"Ada apa?"

"Aku tak bisa menembak ke arah Naruto." ucap Killer Bee.

"Jauhkan perasaan pribadimu!!" Raikage berjalan sendiri menuju kendali senjata itu. "Keberadaan Bumi tergantung dari ini!! Kau pergi saja biar aku sendiri yang menembakannya!!"

"Raikage-sama, ada sesuatu yang tertulis di Bulan!!" seorang shinobi tiba-tiba saja melapor.
"Eh?"

"Kurama.. dia menulis sesuatu di permukaan Bulan."


"Itu adalah huruf shinobi yang berarti.."
"Misi telah sukses dilaksanakan."

Melihat hal itu orang-orang mulai bisa bernafas lega.
"Misinya telah berakhir!!"

"Begitu rupanya.." Kakashi melihat ke teapak tangannya dan memang, waktu penghitungan mendekatnya Bulan sudah terhenti.

Pengumuman pun diberitahukan ke seluruh penjuru negeri, "Pengumuman darurat pada seluruh dunia, Bulannya telah berhenti!! Semua ini berkat usaha lima orang ini, Shikamaru, Sakura, Sai, Hinata, dan Naruto.. Bumi dan masa depan Bumi telah aman."

Di Bulan..
"Huh, seenaknya menyuruhku menulis kaligrafi, tulisanku kan jelek.."
"Ah, maaf Kurama.."

Setelahnya lewat kolam itu, jalan yang sama dengan jalan yang mereka gunakan untuk sampai di Bulan, Naruto dan yang lainnya kembali ke Bumi.

Tapi sebelum itu, mereka sempat melakukan sesuatu pada Toneri, yang sudah kehilangan kedua matanya dan tak berdaya lagi. Hinata membawanya ke suatu tempat.

"Ini.."

"Arwah Hamura mengantarku ke sini." ucap Hinata.
"Toneri, semua penduduk Bumi pasti mau menyambutmu dengan senang hati." ucap Naruto.

"Tidaak, aku akan tetap berada di Bulan dan mempertanggungjawabkan dosa-dosaku.."
"Toneri.."

"Suatu hari nanti, pergilah ke Bumi.." ucap Hinata.
"Bulan tak akan pernah mencapai Bumi. Tidak pernah." Toneri pergi.


"Naruto, ada sesuatu yang sebenarnya ingin kutanyakan padamu.." Naruto dan Hinata sedang berdua di atas sebuah bola besar yang melayang.

"Apa?"
"Soal syal itu..."

Hinata masih penasaran dengan syal hijau yang sempat Naruto kenakan.
"Siapa yang memberikan syal itu?"

"Oh, maksudmu ini? ibuku yang sudah membuatkannya untukku.." ucap Naruto.



"Eh?"

Ternyata waktu itu, ketika Konohamaru memperlihatkan benda-benda peninggalan kakeknya, yang ada di sana bukan cuma mainan-mainan tak penting. Ada satu yang berharga, syal itu, yang sengaja Hokage ketiga simpan untuk nanti diserahkan pada Naruto.

"Ibu.."

"Jadi begitu ya.." Hinata baru mengerti.
"Aku jadi malu.."

"Hei, kakak.." teriak Hanabi yang sudah bersama Sakura dan yang lainnya. "Mau ngobrol-ngobrol berapa lama lagi? kami tinggal lho.."


"Cepatlah, jalannya mulai tertutup.." Shikamaru dkk pergi mendahului.

"Ayo kembali ke Bumi.." ajak Naruto ke Hinata.
"Ya.." Hinata menggenggam tangan Naruto.

Sambil bergandengan tangan, Naruto dan Hinata kembali ke dunia mereka.

"Hinata.."
"Ya?"

"Saat masih di sekolah dulu, saat kita ditanya siapa orang yang ingin kita ajak bersama di hari terakhir kita, aku tak bisa menulis nama siapapun.. aku tak tahu orangtuaku siapa dan aku tak punya teman. Tapi saat ini, aku sudah tahu siapa yang kupilih. Aku ingin bersamamu."

"Saat ini dan selamanya, aku ingin terus bersamamu, Hinata.."
"Naruto.."



Naruto dan Hinata masih bergandengan tangan, melayang di antara bola-bola kenangan itu. Setelah berbagai hal yang telah mereka lewati, akhirnya mereka berdua bisa benar-benar bersama, mulai saat itu dan selamanya..

Tempat itu mulai hancur, namun di sebelah Naruto, Hinata tak merasa takut sama sekali. Naruto kini menggendong Hinata, lalu memintanya untuk berpegangan erat-erat.

"Berpeganganlah padaku.."
"Baik.."

"Jangan dilepaskan.."
"Tak akan.." ucap Hinata.
"Aku tak akan.. pernah melepasnya.."

Naruto kemudian mengarahkan rasengan ke arah bawah.
"Eh? Mau apa?"

Naruto menembakannya, menggunakan tembakan itu sebagai tenaga pendorong yang menghempaskan mereka jauh ke udara. Dengan sangat cepat, Naruto dan Hinata melesat, melewati kolam, sampai di Bumi dan terus melesat.

Naruto terus melesat, menerobos atap gua hingga ia dan Hinata melayang di langit, di hadapan sang rembulan itu sendiri..




"Hinata.."
"Naruto.."



Dengan itu movie ini berakhir.

"Terimakasih, Hinata.."

Tapi benarkah begitu?
Tidak, masih belum benar-benar selesai.

Tak lama setelah itu, Naruto dan Hinatapun menikah. Hingga akhirnya, mereka memiliki dua orang anak.

Musim salju, di rumah mereka yang baru, tampak Hinata yang sedang merajut, sementara Naruto di luar memandang ke arah patung keenam Hokage sambil berolahraga ringan.


"Papa!!"
"Mainlah bersama kami!!"


Boruto dan Himawari berlari dan melompat ke pelukan Naruto.
"Kalau keluar jangan lupa pake sendal.." ucap ibu mereka.

"Yosh! Boruto, Himawari.. bagaimana kalau main bola salju?"
"Ya lempar bola sajlu!!" ucap Boruto dan Himawari kompak.


"Rasakan itu!!"
"Hei Boruto!!"

"Baiklah, kau sendiri yang memintanya!!"
"Aaa!!"

"Hei, kalian tahu kalau mama serius, dia itu super duper kuat!!"

-END-

Blog ini dibuat oleh Yandi Mulyadi.

Use parse tool to easy get the text style on disqus comments:

Show Parser Hide Parser

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.